Kali ini saya berkesempatan untuk berkunjung ke negeri Laskar Pelangi. Negeri yang terletak bersebelahan dengan Pulau Bangka ini, ditempuh selama 1 jam dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Saya tiba pagi pukul setengah delapan di Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, yang merupakan satu-satunya bandara yang ada di Pulau Belitung. Saat ini hanya ada dua maskapai nasional yang terbang ke pulau ini yaitu Batavia dan Sriwijaya. Destinasi awal saya tentunya hotel Pondok Impian tempat saya menginap yang letaknya tepat di bibir pantai.
Setelah beres-beres dan beristirahat sejenak, saya langsung meluncur ke Pantai Tanjung Tinggi, tempat dimana syuting Laskar Pelangi dilakukan. Dari hotel, perjalanan di tempuh dalam waktu 30 menit dengan menyewa kendaraan. Kebetulan di Belitung ini transportasi umumnya masih jarang sekali, jadi lebih baik kita menyewa kendaraan plus sopir sehingga bisa diantar keliling pulau. Jasa sewa kendaraan tersebut sudah ada begitu kita keluar bandara dengan kisaran harga mulai dari 350 Ribu Rupiah.
Sesampainya di pantai, saya sungguh takjub dengan pemandangan indah di depan saya. Hamparan pantai berombak tenang dengan pasir putih dan bebatuan alami sungguh sedap dipandang mata. Luar biasa, karunia Tuhan yang sungguh tiada duanya. Pantainya sangat asri, hampir tidak ada ombak sama sekali, ingin rasanya segera menceburkan diri, wuiihhh mantapp
Sayangnya hari sudah menjelang sore jadi saya hanya mengabadikan beberapa gambar saja.
Esoknya saya langsung tancap gas menuju Belitung Timur, tempat syuting Laskar Pelangi selanjutnya, yaitu SD Muhamadiyah, Gantong. Sebenarnya ada tiga tempat yang wajib dikunjungi, yaitu tempat SD Muhamadiyah asli yang sekarang sudah dibangun lebih baik, tempat shooting asli Laskar Pelangi dan SD replika-nya. Namun saya hanya mengunjungi SD tempat syuting dan replikanya. Perjalanan cukup jauh dari tempat saya menginap, kurang lebih sekitar 2 jam, hanya saja perjalanannya “lancar jaya” alias anti macet dan jalanannya juga sudah bagus.
Sampai di lokasi, memang kondisi bangunan sekolahnya sangat memprihatinkan. Saya jadi teringat bagaimana luar biasanya Bu Mus (Ibu guru pada film Laskar Pelangi) dalam mengabdi, mencerdaskan anak-anak di daerah terpencil tanpa berharap apapun, sehingga wajar jika guru-guru tersebut dianugerahkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa.
Sedikit miris juga, jika mengingat bahwa Pulau Belitung adalah pulau kaya penghasil Timah dan Kaolin, tetapi masih banyak penduduknya yang tidak mengenyam pendidikan yang lebih baik bahkan sebagian masih hidup di garis kemiskinan. Sepanjang perjalanan, saya masih mendapati rumah-rumah gubuk dengan kondisi yang menurut saya jauh dari kata layak. Mudah-mudahan saja pemerintah setempat bisa menangkap peluang baru dengan meningkatkan industri pariwisata di Belitung pasca habisnya kandungan timah di pulau ini, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jika mampir ke Belitung jangan lupa untuk menyantap hidangan khasnya yaitu “Gangan”. Gangan adalah sayur dengan kuah kuning dimana bahan utamanya adalah kepala ikan. Hampir sebagian besar masakan disini memang berbau ikan, maklum daerah pantai. Jadi saya pun tidak melewatkan untuk menyantap hidangan Gangan dengan kepala ikan Ketarap atau orang sini menyebutnya Gangan Ketarap. Makanya bagi yang tidak suka ikan, rugi besarrr, hehehe..
Hari terakhir perjalanan saya ditutup dengan berlayar ke Pulau Lengkuas, kurang lebih 45 menit dari Pantai Tanjung Kelayang, tidak jauh dari Pantai Tanjung Tinggi. Di pulau tersebut terdapat mercusuar peninggalan Belanda sejak tahun 1882 yang masih aktif sampai saat ini. Dengan menumpang boat nelayan berkapasitas 20 orang, saya meluncur ke pulau itu. Sekali lagi saya disuguhi pemandangan luar biasa. Pulau-pulau batu sepanjang jalan seakan melambai dan menyambut kedatangan saya. Air lautnya bening dan terumbu karang dibawahnya tampak sangat jelas.
Setibanya di Pulau Lengkuas memang benar, masih ada mercusuar yang berdiri kokoh disana. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berada di puncak mercusuar itu demi mendapatkan pemandangan terbaik. Tiga belas tingkatan mercusuar harus saya naiki dengan kurang lebih dua puluhan anak tangga tiap levelnya. Sesampai diatas rasanya memang sangat melelahkan tetapi langsung terbayar dengan pemandangan alam yang luar biasa. Keindahannya sungguh tak terbayangkan, yang saya lakukan hanya tak henti-hentinya memuji karya Tuhan yang sungguh agung ini










Posted in
Tags: 
